" Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan shalat itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu. Yaitu mereka yang yakin, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. " (QS. al Baqarah : 45-46 )

Syekh Nawawi al Bantani dalam kitabnya Nashaihul Ibad, Nasihat untuk para hamba, mengutip sabda rasulullah, " Sholat seseorang akan menjadi penerang hatinnya. Barang siapa yg ingin hatinnya menjadi terang, maka terangilah hatinnya ddg mendirikan shalat. " (HR. ad Dailami )

Nikmat Jiwa di Bulan Ramadhan

oleh Arief Husein

Ada satu makna sederhana yang dapat kita ambil ibrahnya dari bulan Ramadhan ini. Hikmah tersebut adalah kenikmatan menahan dan mengelola hawa nafsu ternyata membuahkan kenikmatan ruhani. Yang menjadi suplemen inti kenikmatan jasmani sehingga membuat siapapun merasakan kenikmatan saat memakan hidangan ta'jil. meski dengan beberapa butir kurma dan segelas air putih.

Cobalah bayangkan seandainya kita tidak sedang shaum, segelas air minum dan butiran kurma itu tidaklah akan menjadi hidangan istimewa meskipun di tempatkan sebagai menu menyambut adzan maghrib. Jika sejak pagi kita makan bubur ayam, siangnya rutin lunch bareng temen, sorenya ngemil, apakah akan hadir kelezatan ifthar itu ketika adzan maghrib berkumandang?. Keadaan yang sama dapat kita temukan saat bersahur. Dini hari merupakan waktu yang sangat tidak wajar bagi orang dengan rutinitas normal untuk menyantap makanan sebagai bekal nutrisi untuk siang harinya. saat sahur itu, kadang meski dihidangkan menu makanan yang istimewa, tetaplah selera makan kita tidak sebesar makan siang atau saat lapar. Kesimpulannya, jikalau tidak ada perintah dan penyebutan keutamaan sahur oleh baginda Nabi saw, tentu banyak orang akan meninggalkan sahur ini meski siang harinya berniat shaum.

Rutinitas pokok orang bershaum di bulan ramadhan ini sepertinya memang mau tak mau selalu membuahkan kegembiraan pada para pelakunya, kaum muslimin. seberapapun kadar iman mereka. saya yakin akan hal ini karena, ramadhan selalu dihitung hari demi harinya. setidaknya para penceramah tarawih begitu rajin menghitung hari Ramadhan. Memang para shalihin begitu sedih ketika mereka tersadar akan semakin dekatnya momen perpisahan dengan bulan tercinta ini, terlebih di sepuluh hari terakhir. tapi bolehlah kita menghargai siapapun yang merasa gembira karena telah lulus dan sukses mentaati perintah Rabbnya dalam menjalankan sebulan penuh ibadah Ramadhan. Letihnya bershaum, lama-lama berbertarawih, serta manahan dari segala amarah dan keinginan maksiat. Terlebih sebagaimana dikutip sedikit di atas, bahwa irama aktivitas hidup dan pola makan - yang sejatinya merupakan salah satu kegiatan pokok untuk bertahan dan menghiasi hidup - berubah total. jikalau Ramadhan dianggap terapi, maka terapi masal tersebut sangat efektif merubah kebiasaan beserta nuansa hati milyaran kaum muslimin sedunia.

Sebuah benang merah yang seringkali kasat mata, tentang keajaiban pengendalian nafsu yang berbuah kelezatan jiwa. Makna yang tidak begitu rumit untuk ditemukan oleh siapapun yang mau bertafakur. terlebih saat makna itu dikontradiksikan dengan dengan perilaku sebagian besar manusia si zaman ini. Perilaku mengumbar nafsu dan syahwat dengan asa untuk mengejar haus bahagia. Itupun jikalau kita mau mematuhi konsensus terhadap pernyataan bahwa kebahagiaan itu letaknya ada di jiwa. bukan pada benda dan kepemilikan.

Marilah sedikit mencuplik contoh diri sebelum kita menilai orang lain. Karena kitalah peran utama dalam episode kehidupan dan kitalah yang akan bertanggung jawab nanti. Adakalanya, kita memakan apapun yang memuaskan selera lidah kita, tanpa perduli perut yang penuh mengembung. melupakan kaum fakir miskin yang lapar.dan melalaikan infak dari sebagian harta padahal tak peduli seberapa mahal dan seringnya jajan untuk nafsu makan kita. Bayangkanlah, saat kita terpesona dengan model pakaian atau perangkat elektronik yang menyedit perhatian untuk kita segera memilikinya dalam genggaman. Lalu kitapun memaksakan diri baik dalam kondisi lapang maupun sedikit uang. kadang tidak peduli tentang bertumpuknya pakaian kita yang masih indah dan layak pakai di lemari. Juga sebenarnya masih terpenuhinya fungsi kebutuhan barang elektronik kita dengan baik.

Nafsu memang tidak berujung. mengikutinya seperti meminum air laut. semakin banyak semakin haus. padahal ujung kehidupan adalah kematian. Alangkah malangnya jika hidup diisi oleh aktivitas yang memburu kepuasan nafsu semata. tidak sempat merasakan kenikmatan ruhani yang substansial dan lebih dahsyat ekstasinya. padhaal kenikmatan dari mengikuti nafsu itu sesaat. nikmatnya makan hanya sepanjang lidah, nikmatnya memiliki barang tidak sampai beberapa minggu atau hitungan bulan. setelah itu si nafsu akan menagih lagi...lagi...dan lagi..menjerat dan mengacak fitrah hingga lupa beribadah. lebih menakutkan jika kita menuhankan nafsu. ibadahpun hanya formalitas. berdoapun ujung-ujungnya agar nafsu syahwat terpuaskan. sehingga tenggalamlah dalam lingkaran setan.

Berhasilkan kita memenej nafsu sesuai tuntunan Islam di bulan ini ? Ayo kita tengok dapur dan kulkas kita. agenda belanja dan jalan-jalan kita. Bolehlah untuk membandingkan dengan anggaran infaq, shadaqah, silaturahim, dan mencari ilmu. Dapat terlihat kesungguhan iman kita untuk memasuki pintu syurga yang telah Allah buka. Dan Jika tidak pandai mengelola nafsu secara istiqomah, niscaya ramadhan tidak lebih dari momentum untuk memanjakan nafsu semata.

Di bulan ramdhan ini, marilah kita mengambil sebuah konsep. Yaitu kebahagiaan tidaklah terletak pada pemuasan nafsu. tapi janganlah pura-pura tidak bernafsu, atau berusaha menghilangkannya. karena nafsu tidaklah dapat dibunuh. lalu bagaimana dong? daripada berteori, marilah kita langsung terjun menjiwai contohnya. yaitu ada pada bulan ramadhan ini. sebuah model aplikatif yang menggugah kesadaran dan memecut jiwa kita. karena tersadar di luar ramadhan seringkali kita menjadi budak nafsu. terobsesi pada jenis-jenis makanan, hiburan, kebendaan, pujian, dan macam-macam.

Oleh karena itulah, seawam apapun orang tentang agama. Dia layak dan memang telah merasakan kenikmatan jiwa bulan ramadhan. Minimal saat berbuka dan ber-Idul Fitri. Hari yang dinobatkan oleh nabi sendiri sebagai hari rayanya kaum muslimin.Di sini kaum muslimin mempertajam rasa syukurnya. Dan mudah-mudahan kita semua dapat mengaplikasikan makna sederhana ramadhan dalam 11 bulan mendatang insya Allah. agar berhak kita mendapatkan kenikmatan kedua di akhirat nanti, yaitu saat jumpa dengan Allah SWT.

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya,maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya) (An- Naazi'aat : 40-41)

Yang mau Jadi Ummi dan Abbi ^_~

oleh Dwi Asri Anggianasari

Anak itu emas! Eits, ini bukan nama merk makanan ringan “Anak Mas” (yang rasa keju enak! Oops!), penulis hanya sekedar ingin menggambarkan bahwa anak bagaikan emas. Sebagaimana emas yang kita punya, pastinya akan selalu dijaga: dilirik keberadaannya (apa masih ada ditempat atau sudah hilang berikut salah satu anggota tubuh kita! Lho?), digosok-gosokan ke baju kita agar tetap mengkilat (tentu, tidak ada Jin Tomang di dalamnya) atau sekedar memberikan senyum padanya (yang ini khusus bagi emas hasil pemberian sang kekasih). Semua perlakuan itu wajar (yang tidak wajar adalah ketika kita agresif minta kenalan sama si emas, apalagi kalo si emas-nya ganteng! Hehe). Maka, tak heran jika banyak orang yang menyukai anak, layaknya emas. Bedanya, anak bukan barang dagangan!

Yang menjadi main point pada analogi ini adalah bahwa anak perlu dijaga! Sebentar! dijaga di sini bukan berarti setiap hari kita musti pakai baju satpam, bawa pentungan, dan berdiri tegap dibelakang si anak (yang ada si anak malah jadi takut!). Maksud dijaga bukan pula hanya sekedar selalu diberikan penjagaan agar anak tidak pergi atau melakukan sesuatu sembarangan, tidak terjatuh, tidak terluka, tidak dijahati, dan lain-lain. Tidak cukup sampai disana karena yang kita jaga disini bukan hewan peliharaan yang cukup dengan memberikan dia makan, minum, dan sedikit bermain. Menjaga anak lebih dari sekedar itu! Mengapa? Karena anak adalah makhluk hidup yang memiliki akal dan perasaan, maka dalam memperlakukan anak, lebih dari sekedar menjaganya dalam arti sempit, tapi ada hal yang lebih penting untuk kita artikan secara luas makna penjagaan ini: pembentukan!

Pembentukan, dalam hal mendidik anak, melingkupi tiga hal: pembentukan jasadiyah, pembentukan fikriyah, dan pembentukan ruhiyah. Pebentukan jasadiyah, misalnya, dilakukan dengan memberikan makanan yang seimbang, bergizi, berolah raga, dan lain sebagainya yang output-nya adalah, secara biologis, anak menjadi sehat. Pembentukan fikriyah, misalnya, dengan melakukan diskusi dengan anak, mengajarkan anak membaca dan menulis, membacakan cerita kepada anak, dan lain sebagainya yang outputnya adalah perkembangan otak anak menjadi maksimal. Yang terakhir adalah pembentukan ruhiyah. Pembentukan ruhiyah di sini tidak hanya pembentukan moral anak, lebih dari itu, pembentukan ruhiyah adalah pembentukan kepribadian si anak (dalam Islam adalah pembentukan kepribadian yang muslim).

Pembentukan kepribadian anak tentulah bukan hal yang mudah, apalagi orang tua seakan harus bertarung dengan perkembangan life style jaman sekarang yang memasuki pemikiran anak melalui teman-temannya, film, bacaan, dan lain sebagainya. Maka diperlukan apa yang namanya strategi! Bagaimanakah itu? Saya mungkin tidak bisa memberikan tips n’ trik yang detail yah tentang bagaimana membentuk kepribadian anak (coz belom boleh punya anak, belum nikah bo! Hehe), tapi insya Allah hadist di bawah ini bisa membantu kita (para calon ummi dan abbi) untuk merangkai strategi gimana caranya agar anak kita (nanti) bisa melanjutkan harapan-harapan kita, khususnya tentang harapan berlanjutnya episode ‘BACK to ISLAM’.

Hadits yang dijadikan dasar adalah hadits yang berasal dari Al-‘Allamah al-Majlisi dalam Tambihul Bihar. Hadits tersebut berbunyi sebagai berikut.

”Rasulullah SAW bersabda : Anak adalah majikan selama tujuh tahun, hamba selama tujuh tahun berikutnya, dan menjadi menteri selama tujuh tahun berikutnya. Bila pada usia 21 tahun menunjukkan sifat yang baik, maka ia adalah anak yang baik. Kalau tidak, tinggalkanlah ia, karena berarti kamu telah melemparkan tanggung jawabmu kepada Allah.”

Dengan kata lain, ada tiga tahapan yang perlu diperhatikan dalam hal pendidikan terhadap anak-anak. Ketiga tahapan tersebut adalah: (1) Tahap usia 0 – 7 tahun yang disebut dengan tahap “Majikan”; (2) Tahap usia 7 – 14 tahun yang disebut dengan tahap “Hamba”. (3) Tahap usia 14 – 21 tahun yang disebut dengan tahap “Menteri/wazir”.

Eits, hadist ini memakai bahasa kiasa, jadi jangan mengartikan dengan makna sesungguhnya. Jadi gini, pada usia 0-7 tahun anggaplah anak kita (nanti) sebagai ’majikan’. Pernah jadi pembantu nggak? Hehe! Atau pernah punya pembantu/khadimat? Tentu sebagai ’majikan’ kita maunya mendapat ’pelayanan’ yang membuat kita bahagia dan puas kan? Nah, begitu pula anak pada usia ini. Sebagai orang tua, anggaplah mereka ’majikan’ kita yang musti kita bahagiakan, senangkan, manjakan, layani, dan lain-lain yang membuatnya tersenyum. Namun bukan berari kita memberikan segala yang diinginkan anak ya! Nah, ini nih yang musti diperhatikan, pada tahap ini, anak berada masa masa golden age dimana apa yang dia lihat, dengar, rasa dan persepsikan akan dia serap mentah-mentah, maka pada masa inilah peran orang tua dan saudara-saudaranya sebagai tauladan yang baik sangaaaaat penting. Pada masa ini pula, orang tua mulai dapat menanamkan nilai-nilai yang perlu ditanamkan, termasuk nilai-nilai Islam. Ingat, di usia 0-7 tahun ini anak adalah ’majikan’, maka dalam menanamkan nilai-nilai kebaikan pada anak perlu memakai strategi bermain agar anak tetap merasa happy!

Lanjut ke tahap selanjutnya, yaitu usia 7-14 tahun dimana anak akan kita anggap sebagai hamba. Eits, jangan berpikir bahwa ’hamba’ disini berarti budak. Bukan, bukan itu maksudnya! Gini nih, dalam tahap ini, proses penanaman nilai sudah mulai diperketat penerapannya. Artinya, sudah ada unsur kedisiplinan. Misalnya, anak dibatasi waktu bermainnya atau waktu menonton TV-nya. Dengan kata lain, tahap ini menitikberatkan pada ’amal’ dari nilai-nilai yang sudah anak dapat sebelumnya.

Trus kalau tahap usia 14-21 tahun bagaimana? Nah, ini nih yang sulit! Kenapa? Karena anak sudah mulai memasuki masa remaja akhir, sudah gede-lah! Maka sebagai orang tua (nanti), kita sudah boleh mengajak anak-anak kita untuk ikut berdiskusi tentang suatu hal, misalnya tentang pembagian tugas di rumah atau masalah pembagian keuangan (sedikit-sedikit). Artinya, hubungan antara orang tua dan anak adalah hubungan kemitraan dan dialogis. Insya Allah, dengan melakukan ini, anak akan merasa dihargai diri dan pikirannya. Romantislah hubungan antara keduanya (orang tua – anak).

Nah, teman-teman, para calon ayah dan calon ibu, dari hadits dan keterangannya yang sudah dijabarkan di atas, semoga bisa membantu bagi kita untuk mengatur strategi bagaimana agar anak-anak kita kelak menjadi generasi yang Rabbani. Eits, tunggu! Ini juga berarti bahwa persiapan bagi kita pun musti lebih dahsyat lagi. ”Jika ingin membentuk seseorang, bentuklah diri kita dulu”. Semangat yah! Ayo kita sama-sama jadi orang tua-orang tua itu! Uhuy!!

Mari Kita Tinggalkan Dunia Ini

Masih kurangkah kita mengais-ngais kehidupan dunia selama sebelas bulan ini? Masih kurang puaskah kita mengejar kenikmatan dunia yang tiada seberapa selama sebelas bulan ini? Masihkah waktu yang ada akan kita habiskan untuk bekerja, dan melupakan sang Pencipta ini? Selama sebelas bulan kita secara terus- menerus waktu yang kita miliki ini, kita habiskan dari pagi hingga malam hari untuk bekerja yang tujuannya hanya mendapatkan materi dunia, dan terkadang kita melupakan kehidupan hari akhirat.

Mulai besok kita sudah memasuki sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Mari mulai besok kita tinggalkan seluruh aktivitas untuk mengejar kehidupan dunia ini. Selama sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan ini, kita beri’tikaf di masjid-masjid, di mana Allah Ta’ala akan memberikan maghfirah kepada hamba-hamba yang dekat dengan-Nya. Hamba-hamba yang selalu mengingat-NYa dengan beribadah shalat, berdzikir, puasa, membaca dan mentadzaburi Al-Qur’an, serta berzakat. Allah Azza Wa Jalla akan memberikan ampunan bagi hamba-hamba yang sungguh-sungguh dalam beribadah dan bermunajat memohon ampun, dan akan mendapatkan kemuliaan disisi-Nya, yaitu kelak di surga-Nya.

Tak ada gunanya kita mengejar dunia ini, karena dunia yang kita kejar, hakekatnya akan kita tinggalkan. Tak akan ada makhluk di muka bumi yang akan hidup selama-lamanya. Pasti suatu saat nanti kita akan meninggalkan dunia yang fana ini. Termasuk alam semesta ini, yang akhirnya nanti juga akan berakhir, saat datangnya hari Kiamat. Dan, kita semuanya akan kembali ke kampung akhirat, yang bersifat kekal, selama-lamanya. Kita akan berjumpa dengan Rabb, yang menciptakan alam semesta ini, dan kita akan mempertanggungjawabkan semua apa yang kita kerjakan selama di dunia ini.

Tentu, jika memahami tentang kehidupan akhirat nanti, maka selayaknya seluruh orang-orang mukmin, pasti akan menghentikan aktivitasnya selama sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Mereka akan hanya berada di masjid-masjid, dan tidak akan meninggalkan tempat yang mulia itu, dan mereka tidak akan berhenti-henti bibirnya mengucapkan istighfar, dan beribadah. Di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan inilah Allah Azza Wa Jalla akan menurunkan maghfirahnya saat datangnya ‘lailatul qadr’, yang lebih bernilai dibandingkan seribu bulan, bagi mereka yang akan mendapatkan maghfirah-NYa.

Bagi mereka yang di malam ‘lailatur qadr’, mendapatkan maghfirah-Nya, dan Allah Ta'ala menghapus dosa-dosa mereka. Maka, bagi mereka yang mendapatkan maghfirah-Nya, ketika ‘Ied datang, adalah orang-orang yang menang, serta dikatakan seorang hamba menjadi seperti bayi yang baru dilahirkan, tanpa dosa apapun. Subhanallah.

Bila nilai-nilai ini dimengerti dan dipahami, mereka yang menjadi ekskutif, seperti Presiden, Wakil Presiden, para Menteri, dan para Pejabat negara, anggota Legislative, direktur BUMN, serta semua elemen dalam negara, pasti akan memerintahkan seluruh jajarannya berhenti beraktifitas, dan kemudian menunaikan ‘I’tikaf di masjid-masjid, sambil melakukan muhasabah (introspeksi) diri terhadap apa yang sudah diperbuat selama sebelas bulan sebelumnya. Sehingga, kehidupan ini akan mengalami pembaharuan menuju kehidupan, di mana seluruh rakyat dan orang-orang mukmin akan mendapatkan rahmat-Nya.

Menjelang ajalnya Khalifah Umar bin Abdul Aziz, memanggil seluruh puteranya yang jumlahnya dua belas orang . Nampak seluruh putera-puterinya itu dalam keadaan terlantar, tubuhnya lunglai dengan rambut kusut masai. Wajahnya tampak kuyu merusak keelokan dan kecantikan rupa mereka. Mereka duduk mengelilingi ayahnya, Umar bin Abdul Aziz. Dan, satu persatu ditatap wajah mereka dengan penuh kasih-sayang, dan air mata Khalifah Umar jatuh berderai, kemudian mengucapkan kata secara terbata-bata kepada mereka :

“Wahai anakku sekalian,
Ayahanda diberi salah satu pilihan diantara dua pilihan.
Kalian hidup kaya, tetapi masuk neraka ..
Atau kalian hidup miskin tapi masuk surga ..
Maka, ayahandanya memilih surga ..
Dan, ayahanda lebih suka menitipkan kalian kepada Allah yang telah menurunkan Kitab, dan Dia akan melindungi orang-orang yang shaleh ..

Lalu, wajah Khalifah Umar bin Abdul Aziz berbinar-binar, sedang air mukanya berseri-seri. Ia tersenyum kepada putera-puterinya, kepada ibunya yang amat dimuliakannya, serta kepada isterinya yang amat setia, kemudian Umar mempersilahkan mereka meninggalkan dirinya.

Sepeninggal mereka, Khalifah Umar mengangkat kedua tangannya seakan-akan sedang menyambut dan mempersilahkan kedatangan tamu lama dinanti-nantikannya .. Memang saat itu, rombongan Malaikat suci, hamba-hamba Allah yang dekat dengan-NYa telah datang menjemputnya menunju tempat pelantikan yang telah disediakan baginya .., tempat yang abadi, surga Allah taman Firdaus ..

Orang-orang yang berada diluar kamar samar-samar mendengar Khalifah Umar membaca ayat-ayat al-Qur’an yang diulang-ulang : “(Kebahagiaandi) kampung akhrat itu Kami sediakan hanya bagi mereka yang tidak suka menyombongkan diri dan melakukan kerusakan di muka bumi. Dan, kesudahan yang baik itu adalah bagi mereka orang-orang yang taqwa”. (Al-Qashas :83).

Dan, Amirul Mukminin terus mengulang-ngulang ayat itu, sampai kepalanya terkulai, dan disambut bantalnya yang terbuat dari jerami. Kedua matanya yang selama ini tak dapat dipejamkan terhadap hak Allah dan umat, kini terpejam untuk selama-lamanya, dan wajahnya nampak bercahaya seperti sedang dalam keadaan tidur. Berbagahagialah engkau wahai Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Khalifah Umar tidak pernah melupakan akhirat. Meskipun, ditangannya telah menggenggam dunia (kekuasaan), tapi tak pernah tergoda sedikitpun oleh dunia, dia lebih mencintai Rabbnya. Wallahu’alam.

Diberi Emas, Minta Berlian

oleh Mujahid Alamaya

Menjelang Hari Raya Idul Fitri, hampir semua pekerja, baik di lembaga pemerintahan maupun swasta, tidak akan terlepas dari yang namanya Tunjangan Hari Raya (THR), begitu pun di instansi tempat saya bekerja. Alhamdulillaah, semua karyawan yang 'mengabdi' di instansi tempat saya bekerja mendapatkan THR, termasuk mereka yang baru bekerja dalam hitungan bulan.

Ada hal yang menggelitik ketika teman saya satu divisi 'ribut' masalah THR. Ia tidak mempermasalahkan jumlah THR yang didapatkan dari kantor, tapi mempermasalahkan kenapa ia tidak mendapatkan THR (bonus) dari atasannya, padahal temannya di divisi lain mendapatkan THR dari dua atasannya, yakni atasan langsung setingkat kepala divisi dan di atasnya lagi setingkat direktur.

Ia mengungkapkan bahwa si A dan si B mendapatkan THR dari kepala divisi sekian rupiah, dari direktur sekian rupiah. Dan ia ngotot, kenapa atasannya, yang juga merupakan atasan saya, tidak memberikan THR kepadanya. Berbagai kata ia ungkapkan untuk melepas kekecewaannya karena tidak mendapatkan THR dari atasan. Astaghfirullaah...

Saya dapat mengerti kenapa atasan saya tidak memberikan THR, dan saya pun tidak berharap lebih. Dikasih ya bersyukur, tidak dikasih pun tidak masalah. Karena, alhamdulillaah, secara tidak langsung, selama ini atasan saya sering memberikan 'bonus' kepada saya dan juga teman saya satu divisi tersebut. Atasan saya sering mengajak kami makan di luar.

Saya pun menjelaskan perihal tersebut kepada teman saya itu. Tapi, apa kata teman saya? Ia berkata, "Lebih baik mentahnya aja deh." Padahal, kalau dihitung secara nominal, THR yang didapatkan temannya di divisi lain jauh lebih kecil dari apa yang sudah kami dapatkan ketika atasan sering mengajak makan di luar. Alhamdulillaah...

Entahlah, teman saya itu dapat memahami dan menyadarinya atau tidak. Namun yang pasti, kejadian seperti ini tidak hanya terjadi saat ini saja. Di lain waktu selain bulan Ramadhan, ia sering mengungkapkan 'uneg-unegnya' ketika ada hal seperti ini. Saya pun sering greget ketika memberikan penjelasan. "Sudah diberi emas kok minta berlian?"

Begitulah manusia, sering lupa untuk bersyukur ketika diberi nikmat, tapi merengek ketika melihat orang lain mendapatkan sesuatu yang tidak ia dapatkan. Padahal, jika kita melihat ke sekeliling kita, masih banyak orang yang tidak mendapatkan THR sama sekali. Jangankan THR, untuk memenuhi kebutuhan pokok pun masih harus berjuang dengan keras.

Maka, nikmat mana lagi yang kamu dustakan?

“Lihatlah kepada orang yang lebih rendah daripada kalian dan jangan melihat orang yang lebih di atas kalian. Yang demikian ini (melihat ke bawah) akan membuat kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang diberikanNya kepada kalian.” (HR. Muslim).

Ikhlas

Ikhlash, gampang diucapkan tetapi susah sekali diimplementasikan. Terkadang kita berfikir dan berprasangka perbuatan yang dilakukan telah didasari keihklasan, tapi fakta mengatakan lain. Derajat keihklasan mungkin hanya Allah swt dan diri kita sendirilah yang dapat menilainya. Orang lain bisa saja keliru dalam menilai keikhlasan seseorang.
Namun begitu, tanda-tanda dari perbuatan yang dilandasi keikhlasan akan terlihat dengan jelas. Biasanya, orang yang berbuat sesuatu dengan ikhlash, tidak mengharapkan terima kasih bahkan mungkin tidak ada orang lain yang tahu mengenai perbuatannya. Hanya dirinya dan Allahlah yang mengetahuinya.
Pernah suatu ketika saya dibantu seseorang untuk suatu urusan tertentu. Waktu itu saya belum sempat mengucapkan terima kasih karena ia keburu pergi. Nah ketika itulah tiba-tiba HP-ku berbunyi. .... ternyata darinya.
"Dimana kamu? Hargai dong saya, nampakin muka, apa...... bilang makasih, apa....... Kagak ada sopan santunnya sama sekali. Kalau tau begini kagak bakalan aku ............."
Perasaanku waktu itu bercampur aduk. Memang salah saya, sich. Tapi kan nggak terlalu salah amat, wong saya belum sempat berterima kasih dianya sudah pergi.
Akhirnya aku kirim sms, aku minta maaf dan kuucapin terimakasih. Aku juga tulis disitu alasan kenapa aku belum sempat berterima kasih.
..................... Tak ada jawaban.

hari-hari selanjutnya berjalan seperti biasa. Seolah tak pernah terjadi sesuatu pun.

Biasakan Dari yg Kecil

MARIO TEGUH SUPER CLUB:

Pada tulisan saya sebelumnya tentang Kepantasan Untuk Di Tiru dan Puncak Kehidupan Anda, maka kali ini saya ingin menulis tentang Biasakan Dari Yang Kecil, yang saya simpulkan dari kehadiran saya pada acara Mario Teguh Business Art yang disiarkan pada hari Kamis, 8 November yang lalu. Saya hadir sebagai audience bersama 9 orang Super Members lainnya.

Topik yang diangkat pada waktu itu adalah Copying To Greatness. Beberapa kutipan pointer sebagai berikut:
Satu hari bersama seorang guru yang anggun - lebih baik daripada seribu hari belajar sendiri.
Kelebihan orang lain adalah potensi kelebihan Anda, bila Anda tulus mempelajarinya.
Menirulah dengan tulus. Karena hanya dengan peniruan yang tak terhambat di hati - Anda akan lebih mudah mencapai kesetaraan dengan kualitas yang Anda harapkan itu.
Mario Teguh Super Talk, Copying To Greatness

Salah satu cara untuk berhasil adalah belajar dari kegagalan. Dengan kegagalan, kita tahu cara untuk bisa berhasil. Tidak ada orang yang berhasil kalau belum pernah gagal.

Persoalannya, kita tidak cukup waktu untuk belajar semua kegagalan. Maka cara yang terpendek untuk keberhasilan adalah belajar dari kegagalan orang lain.

Dalam meniru cara-cara yang terbukti telah berhasil, terkadang kita dihadapkan pada satu sisi, dimana kita merasa bukan diri kita, karena apa yang kita tiru tidak sesuai dengan kebiasaan kita sebelumnya. Ini menjadi pertanyaan saya pada sesi tanya jawab.

Untuk menjadikan kita bisa menerima yang bukan diri kita, adalah dengan membiasakan perilaku kita sesuai dengan yang kita tiru, dan itu bisa dilakukan kalau kita melakukan dari yang kecil dan sederhana. Kalau kita meniru yang kecil dan dilakukan se-sering mungkin, maka itu akan menjadi kebiasaan kita, dan kebiasaan yang dilakukan dengan konsisten akan menjadikannya sebagai pribadi kita.

Maka kalau kita ingin meniru satu pribadi yang terbukti baik dan berhasil, maka lakukanlah dari yang kecil dan sederhana dari yang Anda sukai dari pribadi tersebut.

Menirulah dengan tulus. Karena hanya dengan peniruan yang tak terhambat di hati - Anda akan lebih mudah mencapai kesetaraan dengan kualitas yang Anda harapkan itu.
Mario Teguh Super Talk, Copying To Greatness

Wassalam,

19 Keistimewaan Wanita

Berbahagialah wahai wanita shalehah. Sebab rasulullah SAW bersabda, "Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalehah." (HR. Muslim, Ahmad, dan An-Nasa'i).

Di sisi lain berhati-hatilah sebab Beliau SAW juga berpesan tentang fitnah terbesar dari kaum mu, "Tidak ada suatu fitnah (bencana) yang lebih besar bahayanya dan lebih bermaharajalela selepas wafatku terhadap kaum lelaki selain daripada fitnah yang berpuncak dari pada kaum wanita. "(HR Bukhari, Muslim, Ahmad, at-Tirmidzi, An- Nasa'I dan Ibnu Majah).

1. Do'a wanita lebih makbul disbanding lelaki karena sifat penyayang yang lebih kuat dari pada lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulullah SAW akan hal tersebut, jawab baginda : "Ibu lebih penyayang daripada Bapak dan do'a orang penyayang tidak akan sia-sia."
2. Wanita yang solehah itu lebih baik dari pada 1000 lelaki shaleh.
3. Barang siapa yang menggembirakan anak perempuannya, derajatnya seperti orang yang senantiasa menangis karena takut Allah SWT dan orang yang takut Allah SWT akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya.
4. Barang siapa yang membawa hadiah (barang, makanan dari pasar ke rumah) lalu diberikan kepada keluarganya, maka pahalanya seperti bersedekah. Hendaklah mendahulukan anak perempuan seolah-olah dia memerdekakan anak Nabi Ismail AS.
5. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya, akan tinggal bersama aku (Rasulullah SAW) di dalam surga.
6. Barang siapa yang mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua saudara perempuan, lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dengan penuh rasa takwa serta bertanggung jawab, maka baginya adalah surga.
7. Dari Aisyah ra, "barang siapa yang diuji dengan sesuatu dari anak-anak perempuannya lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya api neraka."
8. Surga itu di bawah telapak kaki ibu.
9. Apabila memanggilmu dua orang, ibu bapakmu, maka jawablah panggilan ibumu dahulu.
10. Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu surga. Masuklah dari manapun pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.
11. Wanita yang taat pada suaminya, semua ikan-ikan dilaut, burung diudara, malaikat dilangit, matahari dan bulan, semuanya beristighfar baginya selama dia taat kepada suaminya dan rekannya (serta menjaga sholat dan puasanya).
12. Aisyah ra berkata, "Aku bertanya pada Rasulullah SAW, siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita?" Jawab baginda, "Suaminya." "Siapa pula berhak terhadap lelaki?" jawab Rasulullah SAW, "Ibunya."
13. Perempuan apabila sholat lima waktu, puasa di bulan ramadhan, memelihara kehormatannya, serta taat pada suaminya, masuklah dia dari pintu surga mana saja yang dia kehendaki.
14. Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah SWT memasukkan dia ke dalam surga lebih dahulu dari pada suaminya (10.000 tahun).
15. Apabila seorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah SWT mencatatkan baginya setiap hari dengan 1000 kebaikan dan menghapuskan darinya 1000 kejahatan.
16. Apabila seorang perempuanmulai sakit hendak bersalin, maka Allah SWT mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah SWT.
17. Apabila seorang perempuan melahirkan anak, keluarlah ia dari dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkan.
18. Apabila telah lahir (anak) lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan dari susunya diberi satu kebajikan.
19. Apabila semalaman (ibu) tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit, maka Allah SWT memberikan pahala seperti memerdekakan 70 orang hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah SWT.

(Dikutip dari arsip UNIC Virtual Komuniti)

Kewajiban Membayar Zakat

Allah SWT. berfirman: ‘’Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat.’’ (Al-Baqarah: 110)

Ibnu Abbas r.a. berkata: “Abu Sufyan pernah memberitahukan sesuatu kepadaku dengan menyebutkan hadits Nabi SAW, yang artinya: Beliau memerintahkan kami mengerjakan shalat, membayar zakat, bersilaturrahmi, dan menjaga kesucian diri.(HR. Bukhari)

Dari Ibnu Abbas ia berkata bahwa Nabi pernah mengirim Mu’adz ke Yaman seraya berpesan: ‘’Ajaklah mereka bersaksi, bahwa tidak ada Ilah selain Allah dan sesungguhnya aku (Muhammad) adalah Rasul-Nya. Jika mereka mentaati hal itu, maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka lima perintah shalat pada setiap harinya. Jika mereka mentaati hal itu, maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan mereka untuk membayar zakat pada harta mereka yang diambil dari harta orang-orang kaya diantara mereka dan diserahkan kepada orang-orang miskin diantara mereka.’’ (HR. Bukhari dan An-Nasa’i)

Imam An-Nawawi mengatakan: ‘’Mengenai sabda Rasulullah: ‘’Zakat adalah bukti’’, artinya bahwa seseorang akan berlindung pada zakat, sebagaimana berlindung pada dalil-dalil yang memperkuatnya, apabila ditanya pada hari kiamat kelak mengenai pembelanjaan hartanya. Demikian menurut Mushannif dari kitab At-Tahrir. Sedangkan yang lainnya berkata: ‘’Artinya, bahwa zakat merupakan hujjah bagi keimanan pelakunya. Karena sesungguhnya orang munafiq itu menolak untuk menunaikan zakat dengan alasan tidak meyakininya. Barang siapa bersedekah (mengeluarkan zakat) maka ia akan menjadi bukti kebenaran imannya.’’

Di dalam kitab An-Nihayah, Imam Nawawi mengatakan: ‘’Burhan itu berarti hujjah dan dalil. Dengan kata lain, bahwa zakat merupakan hujjah bagi pengharap pahala dan bahwa zakat adalah kewajiban yang akan diberikan pahala atasnya. ’’Ada pendapat yang mengatakan: ‘’Zakat merupakan bukti kebenaran iman pelakunya, karena ketulusan hati untuk mengeluarkannya. Yang demikian itu disebabkan karena adanya hubungan antara jiwa dengan harta.’’

Sedangkan Al-Qurthubi mengatakan: ‘’Zakat merupakan bukti kebenaran iman orang yang mengeluarkannya atau dengan kata lain; ia bukan termasuk golongan orang-orang munafiq, sekaligus sebagai bukti kebenaran cintanya kepada Allah SWT, atau kesungguhan harapan mendapatkan pahala atas apa yang telah diberikan Allah kepadanya.’’

Zakat merupakan bukti kebenaran iman yang diakui pelakunya. Sebab tindakan mengeluarkan harta secara tulus karena Allah SWT, tidak mungkin terjadi, kecuali jika ada kesungguhan imannya, demikian menurut Al-Sindi.

Dari Abu Ayyub, ia berkata bahwasanya ada seseorang yang bertanya kepada Nabi: ‘’Beritahukan kepadaku amal yang dapat memasukkan aku ke dalam surga! Nabi menjawab: ‘’Harta. Harta.’’ Selanjutnya beliau bersabda: ‘’Yang terpenting darimu adalah menyembah Allah, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menyambung tali silaturrahmi.’’ (HR. Bukhari)

Dari Abu Hurairah r.a, ia menceritakan: ‘’Ketika Rasulullah SAW wafat dan yang menjadi khalifah pengganti adalah Abu Bakar Shiddiq, maka orang-orang dari kalangan bangsa arab banyak yang menjadi kafir. Lalu Umar bertanya kepada Abu Bakar: ‘’Bagaimana engkau memerangi orang-rang kafir tersebut, sedangkan Rasulullah SAW telah bersabda: ‘’Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka mengucapkan syahadat. Barang siapa telah mengucapkannya maka harta dan jiwanya akan terpelihara dari beliau (Rasulullah), kecuali haknya dan hisab atas mereka berada di tangan Allah. Abu Bakar pun berkata: ‘’Demi Allah aku akan memerangi orang yang memisahkan antara shalat dan zakat, karena zakat merupakan hak dari harta. Demi Allah seandainya mereka menghalangiku dari anak kambing yang dulu mereka tunaikan zakatnya kepada Rasulullah, niscaya akan aku perangi mereka karena penolakan itu. Umar pun berkata: ‘’Demi Allah, hal itu tidak lain karena Allah telah membuka dada Abu Bakar untuk memeranginya dan aku tahu bahwa hal itu benar.’’ (HR. Bukhari)
Prinsip Dasar Islam Menurur Al-Quran dan As-sunna

Allah Berfirman:
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Ad dzariyat:56)

A. Definisi Ibadah
Ibadah secara bahasa (etimologi) berarti merendahkan diri serta tunduk. Sedangkan menurut syara’ (terminologi), ibadah mempunyai banyak definisi, tetapi makna dan maksudnya satu.
Definisi itu antara lain adalah:
[1]. Ibadah adalah taat kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya melalui lisan para Rasul-Nya.
[2]. Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah Azza wa Jalla, yaitu tingkatan tunduk yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang paling tinggi.
[3]. Ibadah adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah Azza wa Jalla, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang bathin. Yang ketiga ini adalah definisi yang paling lengkap.

Ibadah terbagi menjadi ibadah hati, lisan, dan anggota badan. Rasa khauf (takut), raja’ (mengharap), mahabbah (cinta), tawakkal (ketergantungan), raghbah (senang), dan rahbah (takut) adalah ibadah qalbiyah (yang berkaitan dengan hati). Sedangkan tasbih, tahlil, takbir, tahmid dan syukur dengan lisan dan hati adalah ibadah lisaniyah qalbiyah (lisan dan hati). Sedangkan shalat, zakat, haji, dan jihad adalah ibadah badaniyah qalbiyah (fisik dan hati). Serta masih banyak lagi macam-macam ibadah yang berkaitan dengan amalan hati, lisan dan badan.

Ibadah inilah yang menjadi tujuan penciptaan manusia. Allah berfirman:
“Artinya : Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghen-daki rizki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku. Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi rizki Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” [Adz-Dzaariyaat : 56-58]

Allah Azza wa Jalla memberitahukan bahwa hikmah penciptaan jin dan manusia adalah agar mereka melaksanakan ibadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla. Dan Allah Mahakaya, tidak membutuhkan ibadah mereka, akan tetapi merekalah yang membutuhkan-Nya, karena ketergantungan mereka kepada Allah, maka barangsiapa yang menolak beribadah kepada Allah, ia adalah sombong. Siapa yang beribadah kepada-Nya tetapi dengan selain apa yang disyari’atkan-Nya, maka ia adalah mubtadi’ (pelaku bid’ah). Dan barangsiapa yang beribadah kepada-Nya hanya dengan apa yang disyari’atkan-Nya, maka ia adalah mukmin muwahhid (yang mengesakan Allah).

B. Pilar-Pilar Ubudiyyah Yang Benar

Sesungguhnya ibadah itu berlandaskan pada tiga pilar pokok, yaitu: hubb (cinta), khauf (takut), raja’ (harapan).

Rasa cinta harus disertai dengan rasa rendah diri, sedang-kan khauf harus dibarengi dengan raja’. Dalam setiap ibadah harus terkumpul unsur-unsur ini. Allah berfirman tentang sifat hamba-hamba-Nya yang mukmin:
“Artinya : Dia mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya.” [Al-Maa-idah: 54]
“Artinya : Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cinta-nya kepada Allah.” [Al-Baqarah: 165]
“Artinya : Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan dan mereka berdo’a kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” [Al-Anbiya’: 90]
Sebagian Salaf berkata [2], “Siapa yang beribadah kepada Allah dengan rasa cinta saja, maka ia adalah zindiq [3], siapa yang beribadah kepada-Nya dengan raja’ saja, maka ia adalah murji’[4]. Dan siapa yang beribadah kepada-Nya hanya dengan khauf, maka ia adalah haruriy [5]. Barangsiapa yang beribadah kepada-Nya dengan hubb, khauf, dan raja’, maka ia adalah mukmin muwahhid.”

C. Syarat Diterimanya Ibadah
Ibadah adalah perkara tauqifiyah yaitu tidak ada suatu bentuk ibadah yang disyari’atkan kecuali berdasarkan Al-Qur-an dan As-Sunnah. Apa yang tidak disyari’atkan berarti bid’ah mardudah (bid’ah yang ditolak) sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Artinya : Barangsiapa yang beramal tanpa adanya tuntunan dari kami, maka amalan tersebut tertolak.” [6]

Agar dapat diterima, ibadah disyaratkan harus benar. Dan ibadah itu tidak bisa dikatakan benar kecuali dengan adanya dua syarat:
[a]. Ikhlas karena Allah semata, bebas dari syirik besar dan kecil.
[b]. Ittiba’, sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Syarat yang pertama merupakan konsekuensi dari syahadat laa ilaaha illallaah, karena ia mengharuskan ikhlas beribadah hanya kepada Allah dan jauh dari syirik kepada-Nya. Sedangkan syarat kedua adalah konsekuensi dari syahadat Muhammad Rasulullah, karena ia menuntut wajib-nya taat kepada Rasul, mengikuti syari’atnya dan meninggal-kan bid’ah atau ibadah-ibadah yang diada-adakan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya : (Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dan ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala di sisi Rabb-nya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” [Al-Baqarah: 112]

Aslama wajhahu (menyerahkan diri) artinya memurnikan ibadah kepada Allah. Wahua muhsin (berbuat kebajikan) artinya mengikuti Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Syaikhul Islam mengatakan, “Inti agama ada dua pilar yaitu kita tidak beribadah kecuali hanya kepada Allah, dan kita tidak beribadah kecuali dengan apa yang Dia syari’at-kan, tidak dengan bid’ah.”

Sebagaimana Allah berfirman.
“Artinya : Maka barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya maka hendaknya ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan sesuatu pun dalam ber-ibadah kepada Rabb-nya.” [Al-Kahfi: 110]

Hal yang demikian itu merupakan manifestasi (perwujudan) dari dua kalimat syahadat Laa ilaaha illallaah, Muhammad Rasulullah.
Pada yang pertama, kita tidak beribadah kecuali kepada-Nya. Pada yang kedua, bahwasanya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan-Nya yang menyampaikan ajaran-Nya. Maka kita wajib membenarkan dan mempercayai beritanya serta mentaati perintahnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bagai-mana cara kita beribadah kepada Allah, dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita dari hal-hal baru atau bid’ah. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa semua bid’ah itu sesat. [7]

Bila ada orang yang bertanya: “Apa hikmah di balik kedua syarat bagi sahnya ibadah tersebut?”
Jawabnya adalah sebagai berikut:
[1]. Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk mengikhlaskan ibadah kepada-Nya semata. Maka, beribadah kepada selain Allah di samping beribadah kepada-Nya adalah kesyirikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya : Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya.” [Az-Zumar: 2]

[2]. Sesungguhnya Allah mempunyai hak dan wewenang Tasyri’ (memerintah dan melarang). Hak Tasyri’ adalah hak Allah semata. Maka, barangsiapa beribadah kepada-Nya bukan dengan cara yang diperintahkan-Nya, maka ia telah melibatkan dirinya di dalam Tasyri’.

[3]. Sesungguhnya Allah telah menyempurnakan agama bagi kita[8] Maka, orang yang membuat tata cara ibadah sendiri dari dirinya, berarti ia telah menambah ajaran agama dan menuduh bahwa agama ini tidak sempurna (mempunyai kekurangan).

[4]. Dan sekiranya boleh bagi setiap orang untuk beribadah dengan tata cara dan kehendaknya sendiri, maka setiap orang menjadi memiliki caranya tersendiri dalam ibadah. Jika demikian halnya, maka yang terjadi di dalam ke-hidupan manusia adalah kekacauan yang tiada taranya karena perpecahan dan pertikaian akan meliputi ke-hidupan mereka disebabkan perbedaan kehendak dan perasaan, padahal agama Islam mengajarkan kebersamaan dan kesatuan menurut syari’at yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya.

D. Keutamaan Ibadah
Ibadah di dalam syari’at Islam merupakan tujuan akhir yang dicintai dan diridhai-Nya. Karenanyalah Allah men-ciptakan manusia, mengutus para Rasul dan menurunkan Kitab-Kitab suci-Nya. Orang yang melaksanakannya di-puji dan yang enggan melaksanakannya dicela.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya : Dan Rabb-mu berfirman, ‘Berdo’alah kepada-Ku, nis-caya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.’” [Al-Mu’min: 60]

Ibadah di dalam Islam tidak disyari’atkan untuk mem-persempit atau mempersulit manusia, dan tidak pula untuk menjatuhkan mereka di dalam kesulitan. Akan tetapi ibadah itu disyari’atkan untuk berbagai hikmah yang agung, kemashlahatan besar yang tidak dapat dihitung jumlahnya. Pelaksanaan ibadah dalam Islam semua adalah mudah.
Di antara keutamaan ibadah bahwasanya ibadah mensucikan jiwa dan membersihkannya, dan mengangkatnya ke derajat tertinggi menuju kesempurnaan manusiawi.

Termasuk keutamaan ibadah juga bahwasanya manusia sangat membutuhkan ibadah melebihi segala-galanya, bahkan sangat darurat membutuhkannya. Karena manusia secara tabi’at adalah lemah, fakir (butuh) kepada Allah. Sebagaimana halnya jasad membutuhkan makanan dan minuman, demi-kian pula hati dan ruh memerlukan ibadah dan menghadap kepada Allah. Bahkan kebutuhan ruh manusia kepada ibadah itu lebih besar daripada kebutuhan jasadnya kepada makanan dan minuman, karena sesungguhnya esensi dan subtansi hamba itu adalah hati dan ruhnya, keduanya tidak akan baik kecuali dengan menghadap (bertawajjuh) kepada Allah dengan beribadah. Maka jiwa tidak akan pernah merasakan kedamaian dan ketenteraman kecuali dengan dzikir dan beribadah kepada Allah. Sekalipun seseorang merasakan kelezatan atau kebahagiaan selain dari Allah, maka kelezatan dan kebahagiaan tersebut adalah semu, tidak akan lama, bahkan apa yang ia rasakan itu sama sekali tidak ada kelezatan dan kebahagiaannya.
Adapun bahagia karena Allah dan perasaan takut kepada-Nya, maka itulah kebahagiaan yang tidak akan terhenti dan tidak hilang, dan itulah kesempurnaan dan keindahan serta kebahagiaan yang hakiki. Maka, barangsiapa yang meng-hendaki kebahagiaan abadi hendaklah ia menekuni ibadah kepada Allah semata. Maka dari itu, hanya orang-orang ahli ibadah sejatilah yang merupakan manusia paling bahagia dan paling lapang dadanya.

Tidak ada yang dapat menenteramkan dan mendamaikan serta menjadikan seseorang merasakan kenikmatan hakiki yang ia lakukan kecuali ibadah kepada Allah semata. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tidak ada kebahagiaan, kelezatan, kenikmatan dan kebaikan hati melainkan bila ia meyakini Allah sebagai Rabb, Pencipta Yang Maha Esa dan ia beribadah hanya kepada Allah saja, sebagai puncak tujuannya dan yang paling dicintainya daripada yang lain.[9]

Termasuk keutamaan ibadah bahwasanya ibadah dapat meringankan seseorang untuk melakukan berbagai kebajikan dan meninggalkan kemunkaran. Ibadah dapat menghibur seseorang ketika dilanda musibah dan me-ringankan beban penderitaan saat susah dan mengalami rasa sakit, semua itu ia terima dengan lapang dada dan jiwa yang tenang.
Termasuk keutamaannya juga, bahwasanya seorang hamba dengan ibadahnya kepada Rabb-nya dapat mem-bebaskan dirinya dari belenggu penghambaan kepada makhluk, ketergantungan, harap dan rasa cemas kepada mereka. Maka dari itu, ia merasa percaya diri dan berjiwa besar karena ia berharap dan takut hanya kepada Allah saja.
Keutamaan ibadah yang paling besar bahwasanya ibadah merupakan sebab utama untuk meraih keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, masuk Surga dan selamat dari siksa Neraka.

Foote Note :

[1]. Pembahasan ini dinukil dari kitab ath-Thariiq ilal Islaam (cet. Darul Wathan, th. 1421 H) oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd, al-‘Ubudiyyah oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tahqiq Syaikh ‘Ali bin Hasan ‘Abdul Hamid, dan Mawaaridul Amaan al-Muntaqa min Ighaatsatul Lahafan oleh Syaikh ‘Ali bin Hasan ‘Abdul Hamid.

[2]. Lihat al-‘Ubuudiyyah oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, tahqiq Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Ali ‘Abdul Hamid al-Halaby al-Atsary (hal. 161-162), Maktabah Darul Ashaalah 1416 H

[3]. Zindiq adalah orang yang munafik, sesat dan mulhid.

[4]. Murji’ adalah orang murji’ah, yaitu golongan yang mengatakan bahwa amal bukan bagian dari iman, iman hanya dalam hati.

[5]. Haruriy adalah orang dari golongan khawarij yang pertama kali muncul di Harura’, dekat Kufah, yang berkeyakinan bahwa orang mukmin yang berdosa besar adalah kafir.

[6]. HR. Muslim (no. 1718 (18)) dan Ahmad (VI/146; 180; 256), dari hadits ‘Aisyah Radhiyallahu anha.

[7]. Lihat al-‘Ubudiyyah oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, tahqiq ‘Ali Hasan ‘Ali ‘Abdul Hamid (hal. 221-222).

[8]. Lihat surat Al-Maa-idah ayat 3.

[9]. Mawaaridul Amaan al-Muntaqa min Ighatsatul Lahafan (hal. 67), oleh Syaikh ‘Ali Hasan ‘Ali ‘Abdul Hamid
Pahala Sholat Tarawih

Berikut Pahala Sholat Tarawih yang dikerjakan tiap malam di bulan Ramadhan :

Hadits diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib R.A, suatu hari Rasullullah SAW ditanya oleh sahabatnya, tentang keistimewaan shalat tarawih pada bulan Ramadan. Maka Rasullullah SAW bersabda; Siapa yang melaksanakan shalat tarawih pada :

Malam ke-1: Terlepaslah ia dari dosa-dosanya seperti ketika ia baru dilahirkan oleh ibunya.

Malam ke-2: Allah swt memberi pengampunan kepadanya dan kepada kedua orang tuanya jika keduanya mukmin (orang yang beriman)

Malam ke-3: Malaikat berseru dari bawah Arsy ; mulailah beramal semoga allah swt mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu.

Malam ke-4: Mendapatkan pahala sama dengan pahala membaca Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Furqon (al Quran)

Malam ke-5: Allah memberi pahala kepadanya seperti pahala orang yang shalat di Masjid Alharam (masjidil haram) di Makkah,masjid Nabawi di Madinah dan masjid Al Aqsha di Palestina.

Malam ke-6: Allah akan memberi pahala seperti pahala orang yang tawaf di-baitul mamur, dan batu-batu serta tanah liat memohonkan ampun untuknya. (subhanallah sungguh luar biasa, batu dan tanah yang kita injak selama ini,ternyata bisa memintakan ampunan kepada Allah untuk kita).

Malam ke-7: Seakan-akan dia berjumpa nabi Musa a.s kemudian menolongnya dari Kerajaan Firaun dan Hamman.

Malam ke-8: Allah memberikan kepadanya, apa yang pernah Allah berikan kepada Nabi Ibrahim a.s

Malam ke-9: Dia menjadi seperti seorang hamba Allah yang beribadah kepadanya seperti ibadahnya seorang nabi.

Malam ke-10: Allah memberikan anugerah kepadanya,berupa kebaikan dunia dan kebaikan akhirat

Malam ke-11: Maka ia akan meninggal dunia dalam keadaan seperti bayi yang baru lahir (meninggal dengan tanpa membawa dosa /husnul khotimah)

Malam ke-12: Pada Hari Kiamat, Anda akan bangkit dengan muka cemerlang seperti bulan.

Malam ke-13: Pada Hari kiamat, Anda akan bebas dari ketakutan yang membuat manusia sedih.

Malam ke-14: Para malaikat memberi kesaksian shalat tarawih anda, dan Allah tidak menghisab anda lagi.

Malam ke-15: Anda akan menerima shalawat dari para malaikat, termasuk malaikat penjaga Arsy dan Kursi.

Malam ke-16: Anda akan mendapat tulisan “Selamat” dari Allah, anda bebas dari surga, dan lepas dari neraka.

Malam ke-17: Allah akan memberi pahala kepada anda sesuai pahala para nabi.

Malam ke-18: Malaikat akan memohon kepada Allah agar anda selalu mendapat restu.

Malam ke-19: Allah akan mengangkat derajat anda ke Firdaus (surga yang tinggi)

Malam ke-20: Diberikan pahala kepada anda sesuai pahala para syuhada dan shalihin.

Malam ke-21: Allah akan membuatkan sebuah bangunan dari cahaya untuk anda disurga.

Malam ke-22: Anda akan merasa aman dan bahagia pada hari kiamat, karena Anda terhindar dari rasa takut yang amat sangat.

Malam ke-23: Allah akan membuat sebuah kota untuk Anda di dalam surga.

Malam ke-24: Allah akan mengabulkan 24 permohonan Anda selagi Anda masih hidup di dunia.

Malam ke-25: Anda akan bebas dari siksa kubur.

Malam ke-26: Allah akan derajat amal kebaikan Anda sebagaimana derajat amal kebaikan Anda selama 40 tahun.

Malam ke-27: Anda akan secepat kilat bila melewati Siratalmustakim nanti.

Malam ke-28: Anda akan dinaikkan 1.000 kali oleh Allah di dalam surga kelak.

Malam ke-29: Allah akan memberi pahala kepada Anda seperti Anda menjalani ibadah haji 1.000 kali yang diterima Allah.

Malam ke-30: Allah menyuruh kepada Anda untuk memakan semua buah di surga, minum air kausar, mandi air salsabila (air surga), karena Allah Tuhan Anda, dan Anda hamba Allah yang setia.

Demikian semoga bermanfaat….

Amin…
Assalamualaikum pada Airmata yang tak lagi terbuai dalam kelembutan
pipi.
Saat kita menyurat tentang kesalahan. Mulut ini tak lagi tertatih.
Saat kelancangan mengotori keadaan.
Kapan terakhir kali kita mencium Dan Mendatarkan jidat meraih sucinya
sang khalik.
Kapan terakhir kita Melatunkan Keindahan akan Al-Qur'an Dan Nyanyian
Zikir Penyejuk Qalbu.
Aku hanyalah teman,
Aku hanyalah sahabat dan
Aku adalah saudara dari Kaum mu untuk saling mengingatkan betapa kita
sudah terlanjur jauh menapaki hidup tanpa menoleh kebelakang melihat
rambu rambu dosa.
Serasa mengaduh jiwa ini sahabat, ketika melihat sahabat-sahabat lain
menunggang kekhilafan, serasa tersayat dan teramputasinya moral karena
kehebatan dunia.
Dunia yang tak ada lagi benang merah antara kaum Adam Dan Kaum Hawa.
Mari Kawan, Mari Sahabat, Marilah Saudaraku
"Tidakkah Kita Merindukan Lagi Kedamaian Dan Kesejukan Hati serta
Pikiran Seperti Kita Waktu Masih Belum Mengenal Dengan yang namanya si
DOsa?"
Indah tiada terkira, dimana suka dan duka menjadikan kita semakin
mengerti akan pahit getirnya hidup ini.
Aku bukan lah seorang yang paham tentang agama, tentang hadist dan
tentang menuju hari terbaik yaitu syurga tapi aku adalah orang yang
mau memulai sesuatu dengan kata "Tidak Terlambat" untuk suatu
perubahan.

Senja pertama ramadhan segera kita jelang, semoga allah memberikan
kekuatan iman dan kesabaran..Amin..
Mari perkokoh dan perkuat AZZAM, PUASA Kali Ini HARUS BEDA.
Selamat Menunaikan Ibadah Shaum Ramadhan 1430H,
Mohon Maaf Lahir dan Batin,
Semoga segala amalan kita diterima dengan sempurna disisi Allah SWT,
amin..

LOVe U FuLl ^_^
LUASNYA NERAKA




Masya Allah... bacalah sampai habis...
Tak sampai 5 menit...

YA ALLAH YA RAHMAN YA RAHIM,
Lindungilah dan peliharakanlah kami, kedua ibu bapak kami, isteri/suami kami, anak-anak kami, kaum keluarga kami & semua orang Islam dari azab siksa api nerakaMu YA ALLAH.

Sesungguhnya kami tidak layak untuk menduduki syurgaMu YA ALLAH, namun tidak pula kami sanggup untuk ke nerakaMu YA ALLAH.

Ampunilah dosa-dosa kami, terimalah taubat kami dan terimalah segala ibadah dan amalan kami dengan RAHMATMU YA ALLAH....... AMIN.....




.: Luasnya Neraka :.

Yazid Arraqqasyi dari Anas bin Malik ra. berkata:
Jibril datang kepada Nabi SAW pada waktu yang ia tidak biasa datang dalam keadaan berubah mukanya,
maka ditanya oleh Nabi SAW : 'Mengapa aku melihat kau berubah muka?'

Jawabnya: 'Ya Muhammad, aku datang kepadamu di saat Allah menyuruh supaya dikobarkan penyalaan api neraka, maka tidak layak bagi orang yg mengetahui bahawa neraka Jahannam itu benar, dan siksa kubur itu benar, dan siksa Allah itu terbesar untuk bersuka-suka sebelum ia merasa aman dari padanya.'

Lalu Nabi SAW bersabda: 'Ya Jibrail, jelaskan padaku sifat Jahannam itu.'

Jawabnya: 'Ya... Ketika Allah menjadikan Jahannam, maka dinyalakan selama seribu tahun, sehingga merah, kemudian dilanjutkan seribu tahun sehingga putih, kemudian seribu tahun sehingga hitam, maka ia hitam gelap, tidak pernah padam nyala dan baranya.

Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan terbuka sebesar lubang jarum niscaya akan dapat membakar penduduk dunia semuanya karena panasnya.

Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan satu baju ahli neraka itu digantung di antara langit dan bumi, niscaya akan mati penduduk bumi karena panas dan basinya.

Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan satu pergelangan dari rantai yg disebut dalam Al-Quran itu diletakkan di atas bukit, niscaya akan cair sampai ke bawah bumi yg ke tujuh.

Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan seorang di hujung barat tersiksa, niscaya akan terbakar orang-orang yang di hujung timur karena sangat panasnya, Jahannam itu sangat dalam dan perhiasannya besi dan minumannya air panas campur nanah dan pakaiannya potongan-potongan api.
Api neraka itu ada tujuh pintu, tiap-tiap pintu ada bagiannya yang tertentu dari orang laki-laki dan perempuan.'

Nabi SAW bertanya: 'Apakah pintu-pintunya bagaikan pintu-pintu rumah kami?'

Jawabnya: 'Tidak, tetapi selalu terbuka, setengahnya di bawah dari lainnya, dari pintu ke pintu jarak perjalanan 70,000 tahun, tiap pintu lebih panas dari yang lain 70 kali ganda.' (artinya: yaitu yg lebih bawah lebih panas)

Tanya Rasulullah SAW : 'Siapakah penduduk masing-masing pintu?'

Jawab Jibril :
'Pintu yg terbawah untuk orang-orang munafik, dan orang-orang yg kafir setelah diturunkan hidangan mukjizat Nabi Isa AS. serta keluarga Fir'aun namanya Al-Hawiyah.

Pintu kedua tempat orang-orang Musyrikin bernama Jahim,

Pintu ketiga tempat orang Shobi'in bernama Saqar.

Pintu ke empat tempat Iblis dan pengikutnya dari kaum majusi bernama Ladha,

Pintu kelima orang Yahudi bernama Huthomah.
Pintu ke enam tempat orang Nasara bernama Sa'eir.'

Kemudian Jibril diam sejenak....segan pada Rasulullah SAW, sehingga ditanya: 'Mengapa tidak kau terangkan penduduk pintu ke tujuh?'

Jawabnya: 'Di dalamnya orang-orang yg berdosa besar dari ummatmu yg sampai mati belum sempat bertaubat.'

Maka Nabi SAW jatuh pingsan ketika mendengar keterangan itu, sehingga Jibril meletakkan kepala Nabi SAW di pangkuannya sehingga sadar kembali dan sesudah sadar Nabi SAW bersabda: 'Ya Jibril, sungguh besar kerisauanku dan sangat sedihku, apakah ada seorang dari ummat ku yang akan masuk ke dalam neraka?'

Jawabnya: 'Ya, yaitu orang yg berdosa besar dari ummatmu.'

Kemudian Nabi SAW menangis, Jibrail juga menangis, kemudian Nabi SAW masuk ke dalam rumahnya dan tidak keluar kecuali untuk sembahyang kemudian kembali dan tidak berbicara dengan orang dan bila sembahyang selalu menangis dan minta kepada Allah (dipetik dari kitab 'Peringatan Bagi Yg Lalai').

Dari Hadith Qudsi:
Bagaimana kamu masih boleh melakukan maksiat sedangkan kamu tak dapat bertahan dengan panasnya terik matahari-Ku.

Tahukah kamu bahawa neraka jahanamKu itu:

1. Neraka Jahanam itu mempunyai 7 tingkat
2. Setiap tingkat mempunyai 70,000 daerah
3. Setiap daerah mempunyai 70,000 kampung
4. Setiap kampung mempunyai 70,000 rumah
5. Setiap rumah mempunyai 70,000 bilik
6. Setiap bilik mempunyai 70,000 kotak
7. Setiap kotak mempunyai 70,000 batang pokok zarqum
8. Di bawah setiap pokok zarqum mempunyai 70,000 ekor ular
9. Di dalam mulut setiap ular yang panjang 70 hasta mengandungi lautan racun yang hitam pekat.
10. Juga di bawah setiap pokok zarqum mempunyai 70,000 rantai
11. Setiap rantai diseret oleh 70,000 malaikat


Mudah-mudahan, hal ini dapat menimbulkan keinsyafan kepada kita semua......Wallahua ' lam.

Al-Quran Surat Al- Baqarah Ayat 159 :
"Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan dari keterangan-keterang an dan petunjuk hidayat, sesudah Kami terangkannya kepada manusia di dalam Kitab Suci, mereka itu dilaknat oleh Allah dan dilaknat oleh sekalian makhluk.





SEPULUH ORANG YANG MAYATNYA TIDAK BUSUK DAN TIDAK REPUT DI HARI QIAMAT KELAK!!!

Disebutkan di dalam satu riwayat, bahwasannya apabila para makhluk dibangkitkan dari kubur, mereka semuanya berdiri tegak di kubur masing-masing selama 44 tahun UMUR AKHIRAT dalam keadaan TIDAK MAKAN dan TIDAK MINUM, TIDAK DUDUK dan TIDAK BERCAKAP.

Bertanya orang kepada Rasulullah SAW : 'Bagaimana kita dapat mengenali ORANG-ORANG MUKMIN kelak di hari qiamat?'

Maka jawabnya Rasulullah SAW 'Umatku dikenali karena WAJAH mereka putih disebabkan oleh WUDHU'.' Bila qiamat datang maka malaikat datang ke kubur orang mukmin sambil membersihkan debu di badan mereka KECUALI pada tempat sujud. Bekas SUJUD tidak dihilangkan.

Maka memanggillah dari zat yang memanggil. Bukanlah debu 'itu dari debu kubur mereka, akan tetapi debu itu ialah debu KEIMANAN' mereka. Oleh itu tinggallah debu itu sehingga mereka melalui titian 'Siratul Mustaqim' dan memasuki Alam SYURGA, sehingga setiap orang melihat para mukmin itu mengetahui bahwa mereka adalah pelayan-Ku dan hamba-hamba- Ku..

Disebutkan oleh hadits Rasulullah SAW bahwa sepuluh orang yang mayatnya TIDAK BUSUK dan TIDAK REPUT dan akan bangkit dalam tubuh asal diwaktu mati :

1. Para Nabi
2. Para Ahli Jihad
3. Para Alim Ulama
4. Para Syuhada
5. Para Penghafal Al Quran
6. Imam atau Pemimpin yang Adil
7. Muadzin
8. Wanita yang mati saat melahirkan
9. Orang mati dibunuh atau dianiaya
10. Orang yang mati di siang hari atau di malam Jum'at jika mereka itu dari kalangan orang yang beriman.

Didalam satu riwayat yang lain dari Jabir bin Abdullah ra., sabda Rasulullah SAW : Apabila datang hari QIAMAT dan orang-orang yang berada di dalam kubur dibangkitkan maka Allah SWT memberi wahyu kepada Malaikat Ridhwan:
"Wahai Ridhwan, sesungguhnya Aku telah mengeluarkan hamba-hamba Ku berpuasa (Ahli Puasa) dari kubur mereka di dalam keadaan letih dan dahaga. Maka ambillah dan berikan mereka segala makanan yang digoreng dan buah-buahan SYURGA".

Maka Malaikat Ridhwan menyeru, wahai sekalian kawan-kawan dan semua anak-anak yang belum baligh, lalu mereka semua datang dengan membawa dulang dari Nur dan berhimpun dekat Malaikat Ridhwan bersama dulang yang penuh dengan buahan dan minuman yang lazat dari syurga dengan sangat banyak melebihi daun-daun kayu di bumi.

Jika Malaikat Ridhwan berjumpa mukmin maka dia memberi makanan itu kepada mereka sambil mengucap sebagaimana yang difirman oleh Allah swt di dalam Surah Al-Haqqah bermaksud :
'Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan AMAL yang telah kamu kerjakan pada HARI yang telah LALU itu'.

Tolong sebarkan kisah ini kepada saudara Islam yang lain.

Dari Abdullah bin 'Amr R.A,
Rasulullah S.A.W bersabda:' Sampaikanlah pesanku biarpun satu ayat..'

Ilmu yang bermanfaat ialah salah satu amal yang berkekalan bagi orang yang mengajarnya meskipun dia sudah mati. '

'Dan (ingatlah) Allah sentiasa mengetahui dengan mendalam akan apa jua yang kamu lakukan'. ( Surat Al-Baqarah : 237)

Untuk renungan dan amalan bersama ...

Doa Nabi Yunus
============
'LAA ILLAHA ILLA ANTA SUBHANAKA INNI KUNTU MINALZHAALIMIIN'

SEBARKAN KEPADA MUSLIMIN DAN MUSLIMAN YANG LAIN, SEMOGA ALLAH AKAN MEMECAHKAN SEMUA KESULITANMU, INSYA ALLAH....WASSALAM.
KEBESARAN SHALAT 2 RAKAAT

Allah SWT selesai menciptakan Jibrail as dengan bentuk yang cantik, dan Allah menciptakan pula baginya 600 sayap yang panjang , sayap itu antara timur dan barat (ada pendapat lain menyatakan 124, 000 sayap).

Setelah itu Jibrail as memandang dirinya sendiri dan berkata:

"Wahai Tuhanku, adakah engkau menciptakan makhluk yang lebih baik daripada aku?."

Lalu Allah SWT berfirman yang bermaksud.. "Tidak"

Kemudian Jibrail as berdiri serta shalat dua rakaat kerana syukur kepada Allah SWT. dan tiap-tiap rakaat itu lamanya 20,000 tahun.

Setelah selesai Jibrail as shalat, maka Allah SWT berfirman yang bermaksud. "Wahai Jibrail, kamu telah menyembah aku dengan ibadah yang bersungguh-sungguh, dan tidak ada seorang pun yang menyembah kepadaku seperti ibadat kamu, akan tetapi di akhir zaman nanti akan datang seorang nabi yang mulia yang paling aku cintai, namanya Muhammad.' Dia mempunyai umat yang lemah dan sentiasa berdosa, sekiranya mereka itu mengerjakan shalat 2 rakaat yang hanya sebentar sahaja, dan mereka dalam keadaan lupa serta serba kurang, Pikiran mereka melayang bermacam-macam dan dosa mereka pun besar juga. Maka demi kemuliaannKu dan ketinggianKu, sesungguhnya shalat mereka itu aku lebih sukai dari shalatmu itu. Kerana mereka mengerjakan shalat atas perintahKu, sedangkan kamu mengerjakan shalat bukan atas perintahKu."

Kemudian Jibrail as berkata: "Ya Tuhanku, apakah yang Engkau hadiahkan kepada mereka sebagai imbalan ibadah mereka?"

Lalu Allah berfirman yang bermaksud. "Ya Jibrail, akan Aku berikan syurga Ma'waa sebagai tempat tinggal..."

Kemudian Jibrail as meminta izin kepada Allah untuk melihat syurga Ma'waa.

Setelah Jibrail as mendapat izin dari Allah SWT maka pergilah Jibrail as dengan mengembangkan sayapnya dan terbang, setiap dia mengembangkan dua sayapnya dia boleh menempuh jarak perjalanan 3000 tahun, terbanglah malaikat jibrail as selama 3000 tahun sehingga ia merasa letih dan lemah dan akhirnya dia turun singgah berteduh di bawah bayangan sebuah pohon dan dia sujud kepada Allah SWT lalu ia berkata dalam sujud :

"Ya Tuhanku apakah sudah aku menempuh jarak perjalanan setengahnya, atau sepertiganya, atau seperempatnya? "
Kemudian Allah SWT berfirman yang bermaksud. "Wahai Jibrail, kalau kamu dapat terbang selama 3000 tahun dan meskipun aku memberikan kekuatan kepadamu seperti kekuatan yang engkau miliki, lalu kamu terbang seperti yang telah kamu lakukan, niscaya kamu tidak akan sampai kepada sepersepuluh dari beberapa perpuluhan yang telah
kuberikan kepada umat Muhammad terhadap imbalan shalat dua rakaat yang mereka kerjakan.... ."

Marilah sama2 kita fikirkan dan berusaha lakukan... Sesungguhnya Allah S.W.T telah menyembunyikan enam perkara yaitu :

* Allah S.W.T telah menyembunyikan ridha-Nya dalam taat.
* Allah S.W.T telah menyembunyikan murka-Nya di dalam maksiat.
* Allah S.W.T telah menyembunyikan nama-Nya yang Maha Agung di dalam Al-Quran.
* Allah S.W.T telah menyembunyikan Lailatul Qadar di dalam bulan Ramadhan.
* Allah S.W.T telah menyembunyikan shalat yang paling utama di dalam solat (yang lima waktu).
* Allah S.W.T telah menyembunyikan (tarikh terjadinya) hari kiamat di dalam semua hari. Semoga kita mendapat berkat daripada ilmu ini.
Wallahualam
5 bulan berlalu..
akhirnya ada kesempatan juga untuk mencurahkan isi hati kembali ;)

banyak yang telah terjadi..
banyak kata..perbuatan..kejadian2 yang diluar angan2 terliar ku sekalipun...

5 bulan ini,
rahmatmu padaku ya Rabb
sungguh seperti hujan di musim panas..menggembirakan, menyejukkan, melepaskan dahaga yang tiada terkira, tidak hanya bagiku tapi juga bagi keluargaku, bagi orang2 yang sayang padaku.
hingga kadang aku merasa pantaskah aku menerima semua ini..?
apakah ini ujian atau limpahan rahmat-MU padaku..?

Ya Rabb..
jika ini ujianmu...
aku memohon dengan sangat bimbinganmu, tuntunanmu, hidayahmu
kuatkanlah aku
sabarkanlah aku
sehatkanlah aku
tabahkanlah aku Ya Rabb ku
luluskanlah aku dengan nilai terbaik Ya Rabb..
jangan biarkan aku tersesat
jangan biarkan aku terlunta lunta di dunia yang fana ini..
jangan biarkan dunia ini menipuku, menzalimiku
jangan biarkan setan yang terkutuk itu mendekatiku dg segala cara Ya Rabb
jangan biarkan api neraka mu menjilat kulitku Ya Rabb
aku betul betul takut Ya Rabb...


Jika semua ini adalah kasihmu padaku
jika semua ini adalah rahmat yang telah kau curahkan padaku dan keluarga
aku memohon dengan sangat
jauhkanlah kami dari sifat sombong ya Rabb
karena kami tau...
salah satu sebab setan dibuang dari shorgaMu adalah kareba Kesombongannya Ya Rabb..
jadikanlah kami menjadi hamba hamba yang tau bersyukur kepada-Mu Ya Rabb
selalu bersyukur, selalu ingat pada-Mu
selalu ingat bahwa kematian selalu menanti di depan mata..

Aku memohon dengan sangat Ya Rabb
bimbinglah aku menuju keridhoanmu
menuju cahayamu yang agung..
hapuskanlah segala noda dan dosa d hati ini ya Rabb..
karena begitu banyak dosa yang telah kuperbuat..
berilah aku kesempatan untuk merobah semuanya Ya Rabb
Berilah aku kekuatan untuk itu Ya Rabb..

Puji Syukur hanya pada-Mu ya Rabbku
penggenggam jiwa dan raga ku
karena ku tahu..
semua hanya milikmu
dan akan kembali padamu..
 

different paths

college campus lawn

wires in front of sky

aerial perspective

clouds

clouds over the highway

The Poultney Inn

apartment for rent